Kenaikan Harga Pupuk dan Sembako

Seperti kita ketahui, sampai saat ini kenaikan harga pupuk masih menjadi masalah pokok para petani. Hal ini disebabkan terjadinya langka pasok sehingga menyebabkan lonjakan harga dan pendistribusian yang tidak tepat sasaran. Padahal pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai kebijakan, seperti : kebijakan subsidi dan sistem distribusi pupuk ((tahap perencanaan kebutuhan, penetapan HET (Harga Eceran Tertinggi), besaran subsidi sampai distribusi ke pengguna pupuk bersubsidi). Tetapi fakta yang ada kelemahan sistem ini rawan penyimpangan, manipulasi perhitungan besaran, subsidi di tingkat pengecer/kios tidak tepat sasaran, tidak mampu mengatasi dualisme harga dan petani cenderung menggunakan pupuk di atas rekomendasi. Demikian halnya dengan sembako. Kedua hal tersebut saling berpengaruh, jika harga pupuk naik, maka kemungkinan besar harga sembako pun ikut naik.
Dalam teori ekonomi kenaikan harga produk dipengaruhi oleh hukum pasar yakni penawaran dan permintaan. Pada musim hujan sebagian daerah di Indonesia yang curah hujannya cukup tinggi akan mempengaruhi produksi padi, cabai, bawang, maupun sayur-mayur menjadi berkurang. Jika penawaran berkurang, maka harga sembako itu menjadi naik. Faktor lainnya, siklus tahunan yakni menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri dimana permintaan terhadap sembako lebih tinggi sehingga harga naik. kenaikan TDL yang diberlakukan pemerintah saat ini akan mempengaruhi kenaikan harga sembako dan akan terus berlanjut hingga bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
Keberadaan tengkulak yang memperpanjang rantai pemasaran juga menjadi salah satu faktor lebih tingginya harga sembako dari produsen ke konsumen. Guna mencari solusi agar sembako relatif stabil, dengan memberdayakan Perum Bulog agar tidak hanya menangani beras tapi sembako. Kontraktif ekonomi/Psikologi Ekonomi penyebab utama kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Kontraktif ekonomi merupakan tindakan para penjual untuk menaikkan harga jualannya, disebabkan akan adanya perubahan kebijakan pemerintah, yaitu kenaikan tarif dasar listrik (TDL), kenaikan tarif tol yang mempengaruhi distribusi barang, dll.
Berbagai kebijakan telah dibuat tetapi tetap sepertinya tidak ada perubahan yang berarti bagi rakyat miskin khususnya. Para investor dan sekutunya saja yang berjaya tetapi tidak untuk rakyat miskin. Inilah dampak terjadinya liberalisasi pertanian. Sudah seharusnya bangsa ini belajar dari kegagalan dan kesuksesan negara-negara lain untuk membangun ekonomi yang menyejahterakan rakyatnya. Nasib rakyat kecil, bangsa, dan negara tidak seharusnya diserahkan kepada mekanisme pasar yang dikendalikan oleh para kapitalis yang menjadi penjajah di negara ini. Pemerintah harus mengendalikan pasar dengan membuat instrumen UU yang jelas tidak merugikan dan aktif melakukan pengawasan. Memang tidak ada kebijakan publik yang dapat menyenangkan semua pihak. Karena itu, kita perlu memahami sehingga akan menghantarkan kita pada perluasan wawasan yang nantinya menuntun kita bertindak lebih arif. Semoga !



” 8 x 3 = 23 “

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24???”

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: ”Sobat, 3 X 8 = 24. Tidak usah diperdebatkan lagi”.

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: ”Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.

Yan Hui : ”Baik, jika Confusius bilang kamu salah,bagaimana?”.

Pembeli kain : ”Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah bagaimana?”

Yan Hui : ”Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”.

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: ”3 X 8 = 23. Yan Hui kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius mengatakan dia salah, diturunkannya topinya lalu diberikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberinya dua nasehat: “Bila hujan lebat, janganlah berteduh dibawah pohon. Dan jangan membunuh.”

Yan Hui berkata baiklah lalu berangkat pulang.

Didalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya akan turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung dibawah pohon tapi tiba-tiba dia ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk mengikuti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar pohon itu dan hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

“Apakah saya akan membunuh orang?”, pikirnya dalam hati. Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan ada seorang di sisi kiri ranjang dan seoran lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confusius untuk jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi???”

Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar janagan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum”.

Confusius berkata: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga,

tapi karena kamu tidak ingin belajar dariku. Cobalah kamu pikir, kemarin guru mengatakan bahwa 3 X 8 = 23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru mengatakan 3 X 8 = 24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang satu nyawa.

Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau satu nyawa yang lebih penting??”.

“Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan keluargaku, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting dan berharga. Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal. Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah demi kebaikan bagi semua orang”.

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata: “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar-benar malu”.

Sejak saat itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

“Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri sendiri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.”



ADIL ≠ SAMA

“Busnya kok lambat sekali sih…huh!!”, gumamku dalam hati. Panas terik matahari siang ini menambahkan rasa letihku setelah pulang sekolah. Aku berpikir setelah sampai rumah nanti aku ingin minum segelas orange juice untuk menghapus dahaga di tenggorokanku.

Setelah beberapa menit dalam perjalanan pulang dari sekolah akhirnya sampai juga di rumah. “Alhamdulillah, sampai rumah juga”, kataku sambil membuka pintu rumah. Setelah kulepas sepatu dan kuletakkan tasku di kamar, aku langsung menuju lemari es. Ternyata di meja makan sudah ada adikku yang sedang minum orange juice bersama mamaku. Adikku perempuan bernama Laras, umurnya 11 tahun (kelas 6 SD).

”Sudah pulang ya Kak?”, tanya mama.

”Sudah Ma…”, jawabku.

“Wah,enaknya adikku dibuatkan minum oleh mama. Kenapa aku tidak dibuatkan minum oleh mama???”, tanyaku dalam hati. Sebenarnya aku selalu saja cemburu setiap kali mamaku memanjakan Laras, aku juga ingin dimanjakan oleh mamaku. Rasanya tidak adil jika hanya Laras yang dimanjakan.

Malampun tiba, waktunya belajar. Ketika belajar pun masih sama pemandangan yang kulihat, mama menemani Laras belajar. Hanya sesekali mama mendekatiku dan menanyakan tugas-tugas sekolahku. Jengkel rasanya hati ini setiap kali melihat pemandangan seperti itu. Tak sadar mata ini mulai terlelap ketiduran.

Pagi datang kembali sebagai tanda tuk memulai aktivitas, seperti biasanya pula aku bersiap-siap untuk sekolah. Ketika akan berangkat sekolah lagi-lagi aku melihat pemandangan yang tak ingin kulihat. Adikku berpamitan dengan mama, lalu diantar ke sekolah oleh papa. Sebel rasanya, pagi-pagi sudah emosi melihat adikku dimanjakan.

Akupun berjalan mendekati mama dan berpamitan dengan mama, dia tak banyak berkata ketika aku akan berangkat ke sekolah. Hanya beberapa kata yang ia ucap: ”Hati-hati Kak..!!. Langsung pulang ke rumah ya jika sudah pulang sekolah??jangan main kemana-mana”, pintanya.

Akupun berjalan dan menunggu bus untuk ke sekolah sambil jengkel sekali dalam hati karena melihat perlakuan orang tuaku kepadaku.

”Apakah mama dan papa sudah tak sayang lagi padaku hingga mereka tak perhatian lagi denganku??”, tanyaku dalam hati.

Pada jam istirahat ku berpikir untuk pergi ke ruang Bimbingan Konseling (BK) dan menkonsultasikan masalahku ini kepada guru BK. Akhirnya aku pun berada dalam ruangan konseling dan akan menceritakan masalahku dengan salah satu guru BK yang bernama bu Tatik. Setelah aku menceritakan masalahku tersebut kepadanya, dia diam sejenak lalu pecahlah tawanya dan berkata: ”Sebenarnya mama mu tidak ada niat untuk tidak berlaku adil kepada anak-anaknya. Bahkan dia ingin berlaku adil kepada anak-anaknya”.

”Berlaku adil ibu bilang?? Apakah seperti itu yang namanya adil? Menurutku mama bertindak pilih kasih…”, sahutku.

”Justru itu yang disebut adil. Ingat, adil bukan berarti sama. Tapi adil adalah dimana kita harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mama mu memang benar tidak memanjakanmu, karena kamu secara biologis sudah tergolong perempuan dewasa. Kamu bukan lagi anak kecil yang harus dibantu dalam melakukan segala hal. Kasih sayang orang tua untuk perempuan seusiamu adalah nasihat dan perhatian. Ketika papa dan mama mu memarahi, menasihati dan mengarahkanmu ketika melakukan kesalahan, hal-hal itu merupakan perhatian yang terindah untukmu. Tidak mungkin ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, karena anak adalah titipan dan anugerah dari Allah SWT. Apakah kamu ingin orang tuamu tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan dan apa yang terjadi padamu??, tentu tidak kan?. Jadi, bentuk perhatian orang tuamu kepadamu dan adikmu sudah tentu berbeda. Tidak mungkin kau diperlakukan sama dengan adikmu oleh orang tuamu”.

Setelah aku tahu jawaban dari permasalahanku, aku minta izin kepada bu Tatik untuk kembali ke kelas.

Di dalam kelas aku duduk merenung, dalam hatiku sungguh hina sekali karena sudah berprasangka buruk kepada papa dan mama. Aku sudah mengira kalau papa dan mama sudah tak sayang lagi padaku, padahal mereka sudah memberikan kasih sayang yang benar-benar tulus kepadaku. Aku menyesal sekali sudah berpikir salah tentang mereka.

Ketika bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, aku bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah aku langsung memeluk mama dan minta maaf kepadanya. Aku pun menceritakan semua yang ku lakukan di ruang bimbingan konseling. Dan mama mengerti apa yang kurasakan dan memaafkanku. Dan aku berjanji akan selalu menyayangi papa, mama, dan tak lupa Laras.

I MISS YOU MOM & DAD. . . .! ! !

Merekalah yang menjadi inspirasi dalam hidupku….



Kisahku… @PraMPKMB

Dua hari yang lalu,. tepatnya tanggal 17 Agustus 2010.. para laskar inspirasi 47 IPB melaksanakan Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru… Pagi2 buta, sekitar pukul 5.25 kami telah siap dengan caping, bendera, dan jubah kebanggaan (almamater)… Sayangnya waktu itu saya sedikit tidak enak badan (masuk angin..hihi) sehingga saya harus memisahkan diri dari barisan laskar11..

Para laskar inspirasi di mobilisasi menuju Lapangan Rektorat karena di sana nanti akan dilaksanakan upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Jargon panji dan yel2 laskar pun berkumandang, menandakan semangat anak bangsa.. Sampainya di Lapangan Rektorat, ternyata ini kepala semakin berontak (pusing maksudnya), berhubung tenda medis tak mencukupi banyaknya para korban yang berjatuhan …hehehe…maklum puasa.. maka sebagian di pindahkan ke kantor Rektorat, saya pun ikut di dalamnya.. ternyata di sana banyak juga yang tepar. Kasian 3x…

Selesai upacara, para laskar inspirasi di mobilisasi lagi menuju GWW.. di sana acaranya seru abizz!! acara pembukaan MPKMB dan ada sesi pengenalan lebih dalam tentang IPB.. perang yel2,, ombak caping,, mantab.. Semua situasi, semua hal yang ada di sana membuatku bangga,,  yah, jadi semakin cinta IPB, cinta pertanian,, viva veteriner!!! (lho?). Sekitar pukul 12.45 acara pun selesai, tampak pula wajah2 lelah dan letih teman2 saya.. segeralah kakak2 komdis memobilisasi kami menuju asrama.. “Ayo semangat2, habis ini kita istirahat teman”, kataku. Sesampainya di asrama semuanya pada tepar lagi….hahahaha.

Tak sabar rasanya menuju tanggal 24 dan 25 September 2010, karena ada MPKMB 1 dan MPKMB 2…!

Tetap semangat Para Laskar Inspirasi…!!

Khususnya Laskar11 dan Panji 2..!!

Semangat juga kakak2 PJL dan KOMDIS…!

“Bergerak nyata meraih prestasi karena kami adalah inspirasi”



IPB Achieves the Sixth Rank of Best Universities in Indonesia by Webometrics :-D

Institut Pertanian Bogor (IPB) wins the sixth rank of best higher educations in Indonesian based on the ranking of Webometrics. In sequence the six best major universities in Indonesia are Institute of Technology Bandung (ITB), University of Gajah Mada (UGM), University of Indonesia (UI), University of Gunadharma, University of Kristen Petra and IPB. The Webometrics version of ranking includes the aspects of size, visibility, rich files and scholars. Size is the number of pages produced by a university, which can be identified by search engines like Google, Yahoo and others. Visibility is the number of websites that link their pages to the websites of a certain university. Rich files refer to the number of pdf files, post script, doc (Word), ppt indexed by Google. And scholar is the number of scientific publications put in the indices of google.com.

“The achievement is not easily obtained by IPB. It requires thorough preparation to get to the sixth rank. It started with the development in the concept of increasing the rank based on the webometrics version, followed by the formation of webometrics team and a road show to socialize webometrics to every faculty directly conducted the Vice Rector of Business and Communication IPB, Dr. Ir. Arif Imam Soeroso. The socialization was attended each Dean and Head of Department,” said Head of Sub-Directorate of Data and Information IPB, Firman Ardiansyah, S. Kom. M.Si.

Another effort made by the webometrics team of IPB was in the forms of a website contest and blog contest, creation of IPB staff’s blogs and free internet access for new students. “To increase the ranking of IPB, I really hope for the cooperation of each department and the working unit in IPB to update the local news on their websites,” said Firman.

********************

http://news.ipb.ac.id/news/010714a1a813a8272e0a788aa9cbce16/ipb-achieves-the-sixth-rank-of-best-universities-in-indonesia-by-webometrics.html